Ayah & Bunda Kerabat Bilal Yang dirahmati Allah

Sebelum kita memiliki momongan kita sangat berharap kehadirannya, akan tetapi setelah ia lahir ke dunia, timbul masalah baru.

Ya…masalahnya adalah “bagaimana cara mendidiknya?”

Ini memang bukan perkara mudah, sebagian dari kita hanya menggunakan “naluri” orangtua ketika membesarkan putra-putri tercinta, dengan berlandaskan “sayang” maka kita mendidiknya dengan penuh kasih sayang.

Akan tetapi sadarkah kita bahwa rasa sayang yang tak dibarengi dengan “ilmu” ini bisa berakibat fatal di kemudian hari.

Dimana letak fatalnya?, sayang yang berlebihan bisa berakibat memanjakan. Dengan kita memanjakan anak, ini membuka celah mengkerdilkan potensinya, anak menjadi serba ketergantungan dan tidak percaya diri

Kami di Rumah Bermain Bilal sebagai salah satu lembaga Bimbingan Belajar yang berada di Pekanbaru yang fokus pada pembentukan akhlak dan karakter anak ingin memberikan tips kepada ayah bunda agar dapat dengan bijak mengendalikan rasa sayang tersebut.

kenapa?

Karena rasa sayang dan cinta adalah energi yang DAHSYAT untuk membangun generasi yang cemerlang.

Akan tetapi..sebaliknya..

jika energi ini disalahgunakan maka bukannya membangun generasi, justru kita yang menjerumuskan sang buah hati pada jurang ke gagalan, na’udzu billah

Nah..berikut 3 tips jitu ala Rumah Bermain Bilal

  1. Beri Kesempatan Anak Untuk Bisa Mandiri

Kadang memang nggak tega melihat anak susah payah mengerjakan sesuatu sendirian. Akhirnya kita lah sebagai orangtua yang turun tangan. Kalau orangtua selalu datang, membantu, dan menyelesaikan pekerjaan anak, kapan anak bisa belajar?

Agar anak bisa mandiri nantinya, latihlah ia untuk bisa melakukan sesuatu sendiri. Salah satu caranya adalah dengan memberinya tugas mengerjakan pekerjaan rumah seperti mencuci piring. Selain bisa latihan untuk mandiri, anak pun bisa merasakan kepuasan sendiri ketika berhasil melakukan sesuatu.

  1. Hindari Pujian yang Berlebihan

Anak butuh dicintai dan diberi kasih sayang. Tapi bukan berarti kita harus memujinya setiap saat. Nggak mungkin kan kita memujinya saat ia mendapat nilai C di sekolah? Jadi memuji anak sesuai kebutuhan, jangan sampai berlebihan. Akan lebih baik untuk memberinya semangat agar nantinya bisa bekerja lebih keras dan berusaha lebih baik.

Kita juga bisa menyampaikan kritik atau berusaha mengoreksi hal yang dilakukan anak. Kritik di sini nggak harus dengan kata-kata pedas. Bisa pakai dengan kalimat positif, “Terima kasih sudah mencuci piring ya, tapi nanti harus hati-hati lagi ya biar piringnya tidak pecah.” Dengan begini, anak akan memiliki rasa puas tapi dia sadar dirinya masih harus belajar lagi untuk meningkatkan kemampuannya.

  1. Selalu Membela Anak Bisa Membuatnya Ketergantungan

Melindungi anak memang jadi tugas orang tua. Tapi kenali juga batasnya. Nggak perlu harus selalu melindungi dan membelanya. Ketika anak mendapat nilai jelek di sekolah misalnya, jangan langsung menyalahkan guru atau metode pengajaran di sekolah. Coba bantu anak untuk melakukan refleksi diri. Cari tahu apa saja kesalahan yang telah dilakukan, lalu cari cara untuk menyelesaikannya.

Memanjakan anak secara berlebihan bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang dan masa depannya. Dan sebagai orangtua, kita memang harus terus belajar untuk bisa menerapkan pola asuh untuk anak.