Ayah & bunda, coba ambil pensil dan kertas. Kita akan menggambar pemandangan. Jika kedua alat tersebut sudah berada di tangan, yuk kita mulai… Ingat, kita akan menggambar pemandangan ya…

…..
…….

Sudah selesaikah?
Coba saya tebak, pemandangan apa yang kini ada di kertas ayah & bunda…. Di sana ada dua gunung dengan satu jalan di tengahnya. Hamparan padang rumput di kiri-kanan jalan, sebatang pohon dan sebuah rumah di salah satu ujung jalan. Matahari yang muncul dan tersenyum dari balik gunung.

Apakah tebakkan saya benar??
Kemungkinan sebagian besar kita akan membuat gambar seperti itu.

Kenapa ini bisa terjadi?? Bukanlah ada begitu banyak citra pemandangan lain yang lebih menarik jika dibandingkan gambar tersebut??

Jawabannya…. kreativitas.

Kita semua adalah produk dari sistem pendidikan yang menitikberatkan pada aspek kognitif dan cenderung mengabaikan kreativitas. Sejak SD, kita tidak didorong untuk berkreasi dan berimajinasi lebih baik. Sejak saat itu pula, ketika gambar pemandangan disebutkan, maka yang langsung terpikirkan adalah gambar matahari yang tersenyum di balik dua gunung tadi. Mindset kreatif kita terkungkung, dan tak lagi mampu berimajinasi meskipun kita tahu, gambar air terjun di atas lembah penuh satwa jauh lebih indah jika dibandingkan gambar tadi.

Howard Gardner, psikolog dan tokoh pendidikan dunia yang mencetuskan teori kecerdasan majemuk ini telah mengungkapkan kekhawatirannya tentang sistem pendidikan yang justru dapat membunuh kreativitas manusia hingga menyentuh tingkat paling rendah yang bisa ia pikirkan.

“Sistem pendidikan yang salah dapat membunuh kreativitas anak hingga tersisa hanya 10% pada saat ia berusia 8 tahun. Ketika kesalahan itu diperpanjang di sekolah dasar hingga usia 12 tahun maka potensi kreativitasnya hanya tersisa 2%. Anak-anak ini akan gagal meraih skor kreativitas jika praktik-praktik pendidikan yang keliru tidak diperbaiki. Penurunan terus berlanjut hingga mereka berusia 40 tahun,” demikian keterangan Howard Gardner di era 80-an.

Apaaaaa? 😱😱 Hanya tersisa 2% di usia 12 tahun??😨

Yap. Ayah & bunda tidak perlu terkejut.

Howard Gardner berbicara tentang sistem pendidikan yang salah, tentang sistem yang hanya fokus pada aspek kognitif dan kerap mengabaikan masalah emosional dan spiritual. Untuk sistem pendidikan yang baik, tentu saja tidak demikian. Tapiiii, apakah sistem pendidikan di negara kita masuk ke dalam kategori sistem pendidikan yang ‘salah’ ini yaa? Hmmmmm…

Dan tentunya, tidak ada orangtua yang ingin kreativitas anaknya menguap tak bersisa…

Oke, kita kesampingkan ketakutan itu dan fokus pada solusi.

Dunia anak-anak adalah bermain, bukan? Kita selalu mengaku paham dan sadar tentang hal ini, namun faktanya kita sering mengabaikannya. Banyak orangtua yang terjebak dengan ekspektasi agar anak bisa membaca, menulis dan berhitung sedini mungkin, lalu menjadi pribadi sukses di kemudian hari. Tanpa kita sadari, kita sendiri yang telah merenggut anak dari dunianya. Karena ego kita, anak kemudian harus kehilangan waktu untuk bermain.

Padahal, bermainlah yang memacu kreativitas anak.

Inilah yang kemudian mendorong Rumah Bermain Bilal hadir sebagai solusi dari permasalahan seperti ini. Kami memandang pendidikan tak lagi bisa menganakemaskan aspek kognitif semata. Semua kecerdasan, baik kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ) harus mendapat porsi yang ideal.

Untuk mewujudkannya, Rumah Bermain Bilal senantiasa melakukan riset untuk terus memacu implementasi dari pendidikan yang ideal ini hingga menghasilkan pendidikan yang lebih berkualitas. Maka lahirlah metode-metode yang tetap unggul dalam memacu pemahaman anak terhadap pelajaran, namun memprioritaskan kecerdasan emosional dan spiritual melalui perwujudan akhlak dan karakter yang baik.

Leave Your Reply