Disiplin adalah suatu kebiasaan positif yang wajib kita tanamkan pada anak sedari dini
Karena memang disiplin adalah modal KESUKSESAN..!!
Iya nggak bun???
Kita lihat bersama bagaimana terpuruknya bangsa kita
Bukan karena orangnya bodoh-bodoh..
Atau bukan pula karena orangnya malas-malas
Tapi karena TIDAK DISIPLIN
Setuju..???
.
.
Padahal…
Disiplin kan sudah di terapkan hampir di semua jenjang pendidikan
Kita bisa lihat, saat ini mulai dari TK anak-anak sudah diajari masuk tepat waktu..
Mereka diajarkan berbaris dengan tertib sebelum masuk kelas
Di jenjang SD, SMP dan SMU,
Kalau kita terlambat masuk sekolah diberi hukuman berdiri di depan kelas.
Belum lagi kalau kita lupa buat PR, kita di hukum berdiri dengan kaki satu sambil memegang dua telinga.
Kalau berisik di kelas, kita disuruh lari keliling lapangan sekolah atau di jemur di lapangan dan hormat bendera sampai jam pelajaran habis,
Iya, nggak? Ada yang pernah ngalamin? He he
Itulah konsep disiplin yang kita terima dulu.
.
Tapi… Kenapa ya.. Hasilnya.. Generasi kita tak kunjung disiplin?
.
Gak usah jauh-jauh deh bunda..
Ketika mereka libur sekolah aja, seakan semua kedisiplinan dilanggar semua
..
Yang tadinya bangun pagi dan sholat subuh
Ketika libur, mulai deh subuhnya kesiangan
Yang tadinya jam makannya teratur
Ketika libur, mulai deh jam makannya sesuka hati (ujung-ujungnya sakit)
Yang tadinya tiap hari belajar
Ketika libur, hampir sama sekali tak menyentuh buku
.
Lalu..
Kemana semua kedisiplinan yang sudah di tanamkan dan diajarkan di sekolah???
.
Ayah & Bunda Sahabat Bilal Yang Dirahmati Allah
Yuk.. Kita cermati kembali..
Apa sih yang membuat kita gagal dalam menerapkan disiplin kepada buah hati kita?
.
Terkadang kita selaku orang tua atau tenaga pengajar, keliru dalam pengertian “Kedisiplinan”
Sebagaian dari kita menganggap bahwa disiplin itu = aturan yang kaku
Yang namanya aturan, penuh dengan sanksi dan segala konsekusensinya..
.
Sehingga ketika anak melihat sederet peraturan didepannya yang muncul di benaknya adalah
Waadduuh… Betapa sulitnya hidup???
Kenapa hidup ini penuh dengan aturan?
.
Ujung-ujungnya ketika anak melanggar aturan disiplin, yang dilakukan sebagian orang tua atau guru saat ini adalah:
– Berlaku keras kepada anak
– Memarahi anak ketika salah
– Membentak anak
– Menghukum anak
.
Apa akibatnya jika kita masih menerapkan pengertian disiplin seperti ini?
Tidak menutup kemungkinan anak-anak akan berlaku sama
Berlaku keras, marah-marah, membentak, dan memberontak tanpa sebab yang jelas kepada kita atau kepada orang lain.
.
Jangan sampai kita memarahi cerminan diri kita sendiri..
.
.
Kuncinya apa???
Kuncinya adalah Kepemimpinan!!!
.
.
Mampukah kita memimpin anak?
Sadarkah kita, bahwa yang kita lakukan selama ini seperti seorang menejer dengan bawahannya?
Menejer membuat sekian baaanyakkkk aturan untuk dipatuhi oleh bawahannya, ketika bawahan melanggar dan muncul kasus-kasus baru,
Segeralah menejer membuat segudang aturan baru lagi, dan ini akan menjadi lingkaran setan yang tak ada habisnya, bukan?
.
.
Misalnya begini,
Sosok Orang tua yang berlaku sebagai menejer bagi anaknya hanya fokus untuk memberi aturan-aturan yang harus dilakukan oleh anaknya dan menimbulkan ketakutan pada anak dengan mengatakan..
“Nak, kamu harus bangun tidur jam 7 pagi ya, gak boleh telat ya. Setelah bangun tidur kamu mandi, setelah mandi kamu makan, gak boleh main kotor setelah mandi, kerjain PR dirumah. Kalo kamu melanggar, mulai besok kamu gak boleh main lagi ya..”
Aduh, capek banget ya? Anak akan lama-lama jadi stress dengan peraturan-peraturan berantai yang gak ada habisnya
.
Dengan analogi diatas, wajar saja jika anak patuh “hanya” ketika dilihat oleh orang tua,
Karena mereka tidak merasa di pimpin, mereka hanyalah anak yang “diatur-atur” oleh orang tua
Ketika orang tua tidak mengawasi mereka,
Ya.. Mereka melanggar..
.
Sedangkan orang tua yang berlaku sebagai pemimpin bagi anaknya akan memberi petunjuk dan arahan kepada anaknya sambil memancarkan kasih sayang dengan mengatakan..
“Nak, kalau kamu bangun jam 7 pagi, kamu boleh dapat jatah nonton kartun kesukaan kamu hari ini, kalau tidak kamu tidak boleh nonton ya. Kalau kamu telat bangun, kasih tau apa penyebabnya? Bisa di toleransi gak?” Nah, Jika ia jujur bisikkan padanya kalau dia anak yang hebat karena telah jujur, jika dia berbohong berikan punishment tapi jangan yang menyakiti fisik dan mental anak”
.
.
Nah, pengertian seperti ini akan membuat anak mengerti kalau semua itu ada aturan mainnya, mana yang baik dan tidak baik, mana yang boleh dan tidak boleh..
Dia akan mencerna dan belajar mengambil keputusan dari sana.
Dia akan merasa bahwa menerapkan aturan itu tidak susah karena ada kejelasan dan ketegasan.
Anak bukan hanya sekedar melaksanakan aturan, tapi juga memahami apa yang harus dilakukan.
.
.
Jadikanlah diri kita di HORMATI, bukan di TAKUTI..
.
.
Ayah & Bunda..
Stop..!!!
Allah mengatakan kepada kita untuk menjadi pemimpin atas keluarga kita!
Bukanlah, menjadi menejer mereka!
.
Lalu apa yang sebenarnya membedakan Menejer dan Pemimpin?
Menejer membuat aturan-aturan
Sedangkan Pemimpin menetapkan arah
.
Menejer menghindari konflik
Sedangkan Pemimpin memanfaatkan konfilik sebagai aset
.
Menejer suka mendapatkan pujian
Sedangkan Pemimpian suka memberikan pujian
.
Menejer membuat keputusan
Sedangkan Pemimpin memfasilitasi pengambilan keputusan
.
Nah, jelas terlihat perbedaannya bukan?
.
.
TAPI..
DISIPLIN itu definisi sebenarnya apa sih ya???
Tidak terlambat?
Tepat waktu?
Rajin?
Tertib?
Kerja keras?
YA!!!
Benar.
.
Tapi tidak seutuhnya.
.
Nah, ini makanya kita belum bisa disiplin, karena selama ini pengertian disiplin kita masih salah!
.
DISIPLIN adalah “fokus dan sungguh-sungguh melakukan sesuatu sampai mendapatkan hasil yang kita inginkan..”
.
Kita semua khawatir bukan,
Ketika disekolah anak-anak alih-alih dilatih disiplin, tapi malah rawan kekerasan..
Baik secara fisik ataupun mental..
.
Beda kalau di Bilal..
.
Contohnya..
Pada waktu sholat tiba, anak-anak kita beritahu kalau waktu sholat tiba itu harus segera wudhu dulu dan sholat bersama-sama, bagaimana cara wudhunya, doanya seperti apa, jika tidak sholat berikan pengertian kalau anak yang tidak sholat itu adalah temannya setan, dan berikan juga pengertian jika sholat itu nanti akan di sayang sama Allah.
Dan itu kami lakukan setiap hari sampai anak disiplin dan paham sendiri apa yang harus dilakukan ketika waktu sholat tiba.
.
Nah, kedisiplinan yang kami terapkan ini dibawa anak sampai kerumah..
.
Buktinya dapat kita lihat dari pernyataan Bunda-Bunda di Bilal..
..
Bundanya Aksa:
“Alhamdulillah, Aksa sekarang tanpa disuruh ikut sholat berjamaah meskipun masih kurang konsentrasi”
..
Bundanya Ghani:
“Sholatnya ontime, pas adzan dia nanyain ‘udah adzan bu?’ pernah sekali saya pancing melambatkan sholat, waktu itu sholat isya, saya biarkan dia mengantuk dan tertidur. Ternyata dia ingat, dan dia baru tidur lagi setelah sholat isya’..”
.
Begitulah jika kita menerapkan disiplin dengan konsep yang benar.
Anak tidak hanya melaksanakan aturan, tapi mengerti aturan dengan baik..
Jadi, tanpa dilihat atau di awasi pun anak akan mengerti aturan mainnya yang berlaku..
.
Berilah satu persatu aturan main yang harus diterapkan.
Jangan sekaligus.
Tegaskan konsekuensinya.
Memang, anak tidak akan langsung berubah.
Akan ada proses anak berubah dari A ke B.
Akan terjadi perlawanan-perlawanan dari anak.
Dan itu hal biasa.
Tapi, aturan tetap aturan.
Makanya kita berikan adanya penghargaan/ hadiah ketika dia bisa menjalankan aturan dan hukuman ketika dia melanggar aturan.
Tapi sebaiknya kita tidak membuat suatu penghargaan dan hukuman yang menyusahkan kita dan anak kita.
.
.
Mulai dari sekarang yuk, sama-sama terapkan DISIPLIN yang benar pada diri kita dan anak kita..😍

Leave Your Reply