Keluarga adalah lingkungan pembentukan akhlak anak yang paling utama.

Sudahkah kita lakukan itu dirumah?

Namun setelah memasuki usia sekolah pendidikan akhlak terhadap anak dilanjutkan di lingkungan sekolah.

.

Maka sudah saatnya kita memilih sekolah untuk anak.

Kita benar-benar khawatir akan kontaminasi sosial dari lingkungan yang buruk di sekolah saat ini

Berapa banyak anak-anak bangsa ini yang cerdas dan unggul secara akademik namun justru tak berarti apa-apa dikarenakan akhlak dan karakter mereka yang rapuh?

.

Sekolah yang tidak mempedulikan akhlak,

Yang hanya mempedulikan nilai, nilai, nilai dan nilai..

Akan menjadi tempat yang penuh tekanan dan anak akan menjadi stress belajar..

.

Dan hal ini sudah banyak terjadi,

Pengajar menuntut anaknya untuk mencapai nilai ketuntasan minimal atau istilahnya nilai KKM

Maka anak-anak pun akan lebih berpacu bagaimana mendapatkan nilai yang tinggi entah bagaimanapun caranya

Entah itu menyontek, berlaku curang, atau berbuat zhalim pada temannya?

.

Terlebih lagi jika ternyata, kita juga lebih peduli pada pencapaian nilai anak ketimbang pencapaian anak memiliki perilaku yang baik?

.

Buktinya kita lebih sering memberikan reward atau hadiah kepada anak jika ia berhasil mendapatkan nilai 100 atau juara satu di kelas.

Memang, hal ini wajah-wajar saja kita berikan kepada anak.

Tapi kita sering lupa atau jarang sekali kita memberikan reward ketika anak berbuat baik.

Ketika anak berlaku jujur, ketika anak menolong, ketika anak rajin, dan sebagainya..

.

Sekolah yang tidak mempedulikan akhlak,

Yang hanya mempedulikan prestasi, prestasi, unggulan, dan juara

Akan menjadi tempat kontaminasi sosial bagi anak

.

Dan hal ini juga sudah banyak terjadi,

Anak-anak sudah kenal tawuran antar sekolah

Hal ini terjadi bisa terjadi karena lingkungan, saling merasa lebih unggul, atau merasa kelompoknya lebih hebat dari kelompok lainnya

.

Selain itu, Bullying

Anak yang melakukan bullying biasanya anak yang merasa lebih berkuasa, anak yang merasa lebih unggul biasanya membully temannya yang lemah, atau yang tidak tidak pintar, tidak berprestasi, atau yang mereka anggap cupu.

.

Apakah hal-hal ini yang saat ini merasuki anak kita?

Atau bahkan kita sendiri dulu pernah mengalaminya?

.

Siapa yang akan bertanggung jawab jika sudah begini?

Kalau sudah begini akan terjadi saling lempar..

Sekolah inginnya lepas tangan

Sekolah mah lepas tanggung jawab kalau anak kita udah bermasalah bun..

Karena mereka tidak fokus pada akhlak dan moral

Dan hanya peduli pada standart nilai anak

Biasanya anak yang nakal atau bandel dan bermasalah akan dikeluarkan dari sekolah atau istilahnya dikembalikan kepada orang tua.

Hal ini terkadang sedikit lucu, bukankah tugas pendidik adalah mendidik anak menjadi lebih baik secara akhlak dan karakter?

.

Nah, kita yang sebagai orang tua ini akan menyalahkan siapa?

Terbuka kah mata kita akan fakta-fakta yang ada saat ini?

Masalah akhlak anak memang menjadi tanggung jawab dunia dan akhirat kita sebagai orang tua

Bukankah begitu?

.

Padahal seharusnya antara orang tua dan sekolah bisa saling bekerjasama dan memiliki visi misi yang sama.

.

Jadi, kalau Ayah & Bunda sudah terlanjur salah masukkan sekolah, ada baiknya di sarankan pindah sekolah, hal mencegah pengaruh yang lebih buruk kepada anak.

.

Tapi apakah semua orang tua mau mengambil langkah ini?

Kan tidak semudah itu pindah sekolah?

Tentu langkah ini perlu nyali yang kuat untuk melakukannya

Mulai dari konsekuensi omongan orang

Konsekuensi biaya jika pindah sekolah

Konsekuensi pemberontakan dari anak

Atau bahkan konsekuensi ego kita sendiri yang merasa anak kita harus unggul dengan ukuran angka dan nilai

Daripada unggul dalam akhlak dan moral

.

Wajar saja.

Kita hidup dalam lingkungan dan kebiasaan yang kurang mempedulikan masalah akhlak dan moral

Contoh kecilnya saja, masalah buang sampah.

Apakah kita peduli anak kita buang sampah sembarangan?

Apakah sekolah peduli ketika ada siswa yang buang sampah sembarangan?

Disini letak kesulitannya,

Bagaiamana kitapun masih menganggap itu bukan kesalahan.

Sehingga nilai akhlak dan moral juga sebernarnya bukan point utama yang kita inginkan pada anak?

.

Sudah saatnya kita sadar dan berubah..

Orang tua harus bangkit dan melaksanakan kewajibannya terhadap anak.

Termasuk dalam memberikan pendidikan yang baik, agar kelak menjadi generasi yang baik dapat memberi manfaat bagi orang tua dan umat banyak.

.

Boleh saja mengajarkan anak ilmu-ilmu umum..

Tapi, bukan jadi target utama!

Toh, ilmu-imu umum di sekolah bisa dipelajari, bahkan otodidak juga bisa.

Buktinya, betapa banyak orang yang hebat mempelajari komputer tanpa harus sekolah?

.

Tapi kalau akhlak?

Moral?

Dan adab?

Tidak otodidak.

Akhlak dan adab hanya bisa di tularkan!

.

Mereka butuh pengenalan

Mereka butuh tangan yang merangkul mereka

Mereka butuh bimbingan

Mereka butuh teladan

Mereka butuh penjelasan

.

Kita bisa cari sekolah-sekolah yang mempedulikan akhlak.

Cari tau terlebih dahulu dan tanya-tanya, apa kefokusan sekolah itu?

Kalau sekolah hanya konsen dengan menjadikan anak pintar, anak berprestasi, anak dapat nilai tinggi, anak jadi yang paling unggul,

Segera di coret dari daftar list.

.

Sedini mungkin tanamkan akhlak yang baik kepada anak.

Karena anak usia dini, mereka lebih mudah terkontaminasi.

Maka sejak dini sekali sudah kita perhatikan pendidikan mereka

Cari sekolah yang memang, peduli dan fokus dengan akhlak..

.

.

Bahkan Nabi Muhammad saja di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia..

.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.”

.

.

Berarti sudah sangat jelas bahwa pendidikan akhlak sangat penting, dengan diutusnya Nabi Muhammad oleh Allah sebagai penyempurna akhlak manusia.

.

Itulah kenapa salah satu hal yang penting kita tanamkan sejak dini kepada anak adalah masalah “akhlak”.

.

Ubahlah persepsi bahwa menanamkan “akhlak baik” hanya untuk anak yang sudah dewasa.

Tidak!

Ini persepsi yang salah.

Justru potensi menamamkan kebaikan ini lebih besar efeknya jika ditanamkan sedari dini kepada anak.

.

INGAAATTT!

.

.

“AKHLAK YANG UTAMA”

.

.

YA!

Kata-kata tersebut merupakah bunyi dari salah satu 5 prinsip mengajar di Rumah Bermain Bilal.

.

Hal ini kita tanamkan di Bilal.

Hal yang menjadi fokus utama kita.

.

Yaitu akhlak adalah prioritas utama kami dalam mendidik anak

Bahkan di awal-awal pertama anak belajar di Rumah Bermain Bilal

Persentase besar yang di ajarkan adalah mengutamakan pembelajaran akhlak sebelum pelajaran kognitif.

.

Nanti kita bisa rasakan sendiri,

Ketika sekolah benar-benar fokus mempedulikan akhlak terlebih dahulu

Maka proses kita dalam mendidik anak itu akan jauh lebih mudah

Dan ini terbukti di Rumah Bermain Bilal

Ketika akhlak anak sudah mulai terbentuk, pelajaran yang diterimanya akan lebih mampu diserap dengan optimal oleh anak.

.

Itulah juga sebabnya mengapa kami mendidik anak mulai dari usia 3th dan maksimal usia 12th.

Jika dilihat, usia tersebut adalah usia pembentukan akhlak, mental dan karakter seorang manusia.

Jika di usia tersebut kita fokus membangun akhlaknya maka kelak itulah modal dia dalam mengarungi hidup menuju masa depan gemilang.

.

Namun sayangnya, kita ini bun.. Suka menganggap sepele sama urusan memilih sekolah yang peduli akhlak dan moral anak kita.

Toh, anak kita itu dia baik-baik saja dirumah. Anaknya anteng-anteng saja dirumah. Jadi, ya dirumah saja sudah cukup.

Memang, jika hal itu kita mau menarik anak kita untuk homeschooling, tidak apa-apa.

Tapi jika memang ingin menyekolahkan anak di sekolah, kalau anak kita sudah terkontaminasi. Baru kita menyesal belakangan.

.

Yang perlu kita ingat lagi bun..

Manusia tanpa akhlak tidak akan ada artinya apa- apa.

Dengan pendidikan akhlak yang diterapkan, tidak boleh berhenti hanya sampai dirumah, tapi harus juga diterapkan di sekolah yang mana itu adalah rumah kedua bagi anak.

.

Jadi demikan Ayah & Bunda..

Syukur-syukur saat ini masih ada sekolah yang mempedulikan akhlak dan moral anak..

Ingat, tidak usah terpengaruh sama anak tetangga yang masuk sekolah unggulan tapi sekolahnya tidak fokus sama akhlak anak.

Karena anak kita tanggung jawab kita, bukan tanggung jawab tetangga.. He he

Dan tidak semua yang banyak dilakukan kebanyakan orang itu benar.

Maka tentukanlah pilihan kita dari sedini mungkin dalam memilih sekolah untuk anak kita..

Leave Your Reply