Assalamualaikum warrahmatullahi wa barakatuh.

Ayah bunda yang dirahmati ALLAH SWT.semoga kita senantiasa diberikan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, dan Saya doakan semoga kita semua dalam keadaaan sehat dan dalam perlindungan ALLAH SWT. Aamiin aamiin aamiin ya rabbal’alamin.

 

Dalam pembahasan kali ini, kita akan membahas tentang bagaimana pola asuh, pola didikan, pola binaan, pola bimbingan orang tua terhadap anak yang DULU dan SEKARANG.

 

Masih ingatkah ayah dan bunda bagaimana pola asuh, pola didik, orang tua kita terdahulu?

Mari kita bahas sedikit untuk kembali mereview ulang memori kita. Dulu saat kita kecil, orang tua kita banyak melarang kita tidak boleh ini, tidak boleh itu, jangan lakukan ini, jangan lakukan itu, karena itu tidak baik. Jangan membantah kata orang tua, sholat 5 waktu, harus nurut kata orang tua, gak boleh melawan, gak boleh membantah apa kata orang tua, kalau membantah orang tua masuk neraka, jadi anak durhaka, ketika salah langsung dihukum, tidak dimanja dan lain sebagainya.

 

Bagaimana dengan sekarang?? Masih sama atau udah berbeda?

Coba kita perhatikan, Sekarang orang tua lebih banyak mendidik anaknya dengan kasih sayang yang berlebihan. Loh Kenapa kok kasih sayang berlebihan tidak boleh? Apa sih dampaknya? Mari sama kita belajar lagi. Bahwa mendidik anak dengan kasih sayang yang berlebihan akan menimbulkan efek negative kedepannya. Kenapa? Karena dengan sesuatu hal yang berlebihan dalam bentuk apapun itu baik perhatian, didikan, binaan, teguran dan lain sebagainya  itu akan berpengaruh dalam segi psikologi anak, tingkah laku anak, dan langkah apa yang akan mereka ambil kedepannya. Contoh, kalau anak terlalu sering dimanja nanti jadi timbul sifat malas, tidak berusaha makssimal, berharap pertolongan orang lain dan lain sebagainya. Maka dari itu lakukanlah apapun itu secara tepat, dan tidak berlebihan.

 

Nah, Dalam mendidik anak kita biasanya kita mencontoh pola didik orang tua kita terdahulu yang telah turun temurun. Dengan pola terdahulu yang mana didikannya monoton, Seperti anak harus nurut apa kata orang tua, tanpa banyak bertanya, tanpa boleh memngemukakan pendapat mereka, tanpa peduli apa yang mereka rasakan. Banyak orang tua generasi selanjutnya tidak mendapatkan keberhasilan seperti dahulu. Bisa dikatakan keberhasilan itu 50% bahkan bisa lebih rendah dari itu. Kenapa? Karena zaman sekarang sangat berbeda. Zaman dari waktu ke waktu yang semakin berubah, berkembang, bahkan lebih jauh seknifikan perubahannya, membuat para orang tua harus lebih kerja keras dalam mendidik anak. Mendidik anak disini dimaksudkannya adalah pola pendidikan yang diterapkan orang tua terhadap anak, yang akan berdampak kepada perkembangan anak, masa depan anak.

 

Banyak orang tua sekarang tidak memahami pentingnya membentuk pola pengasuhan, pola didikan, pola pembinaan, dan pola bimbingan untuk anak agar menjadi seperti apa yang kita harapkan, seperti apa yg mereka mau, tanpa membuat mereka menjadi orang lain, mereka nyaman dengan menjadi diri mereka sendiri.

Kesalahan kesalahan yang sangat sering dilakukan orang tua terhadap anak dalam mendidik anak akan kita bahas secara umum yang mungkin tidak disadari oleh orang tua.

 

  1. Banyak memberikan pilihan

  Yang dimaksud banyak memberikan pilihan ini adalah dimana anak kita arahkan untuk memilih dari sekian cara belajar yang membuatnya bingung serta bimbang menentukan pilihan yang terbaik. Banyak orang tua tidak memahami kapan anak sudah dikatakan mampu menentukan pilihan pembelajaran apa yg mereka sukai atau belum mampu. Contohnya, anak disuruh memilih belajar duduk diam,rapi dalam ruangan tanpa berisik. Saat orang tua menunyuh anak memilih. Namun, sudahkah orang tua telah mampu memahami sejauh mana minat anak dalam belajar? Ternyata banyak yang tidak memahaminya.

 

  1. Selalu membuat anak senang dan bahagia dengan cara apapun

Semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia, membuat anaknya merasa senang, namun orang tua lupa bahwa tidak selamanya kita merasakan kesenangan, kebahagaiaan. Orang tua lupa bagaimana mengajarkan bahwa mendapatkan kebahagiaan, kesenangan tidak hanya dari orang tua saja, tetapi dari banyak hal. Menikmati kebahagiaan dengan cara bersyukur.

 

  1. Memenuhi segala keinginan anak

Menuruti segala kemauan anak dalam menggapai segala keinginannya, tanpa  orang tua mengetahui itu kebutuhan atau hanya sekedar keinginan. Hal itu akan berdampak di masa yang akan datang, yaitu anak menjadi manja, pemalas, tidak mau bekerja keras, tidak mandiri, dan tidak menghargai apa yg telah di dapatkan.

 

  1. Membuat anak selalu sibuk

Membuat anak sibuk dengan hal yang positif itu bagus. Namun, membiarkan anak dalam keadaan bosan juga tidak ada salahnya. Agar kedepannya mereka bisa berkreasi, inovasi dan mencari solusi untuk menghadapi kebosanannya ataupun hal yang lainnya.

 

  1. Meyakini bahwa pintar adalah nomor Satu

Banyak orang tua meyakini bahwa anak pintar adalah anak yang memiliki nilai tertinggi di sekolahnya. Padahal masih banyak hal yang perlu diperhatikan diberi tanggapan yang lebih seknifikan. Seperti, anak pandai mengaji, anak bisa berbagi, anak sudah bisa mandiri, anak bisa membantu orang tua, bisa membantu teman, memiliki sikap toleransi, memiliki sikap empati, bersyukur

 

  1. Tidak mengajari soal konsekuensi dan kehilangan
    Orangtua secara naluriah memang akan selalu melindungi anaknya, namun dalam beberapa hal, anak harus belajar menghadapi konsekuensi tindakannya. Anak harus belajar Merasakan kehilangan sesuatu agar lebih menghargai sesuatu yang telah dimiliki. Seperti kata pepatah, pengalaman adalah guru terbaik.

 

  1. Menganggap anak punya kehidupan yang monoton
    Masih banyak orang tua yang beranggapan bahwa anak memiliki kehidupan yang monoton. Rutinitas yang monoton. Seperti sekolah,pulang sekolah,bermain,belajar,tidur dan lain sebagainya. Padahal, aktivitas anak itu tidak lah monoton jika orang tua bisa menempatkan diri didalamnya, bisa mengaturnya sedemikian rupa sehingga anak tidak merasakan apa yang ia lakukan itu adalah hal yang membosankan.

 

  1. Sering Bicara Keras

Tidak sedikit orang tua yang memilih bicara keras pada anak agar mereka patuh. Kebiasaan ini memang tampak efektif. Anak akan langsung patuh dan menuruti apa yang dikatakan orang tua. Tetapi anak tetaplah anak yang memiliki hati lembut. Kata-kata keras yang dilontarkan kepadanya akan membuat anak cenderung menghindar berada dekat orang tua sebab khawatir diteriaki atau dimarahi. Anak jadi takut pada orang tua, bahkan cenderung suka berbohong.

 

 

 

  1. Kebahagiaan Anak Tidak Hanya Bergantung pada Uang

Memang anak suka diberi uang jajan. Tentu saja. Tapi uang tak bisa membeli semua kebahagiaan baginya. Jika orang tua sibuk dan mencari jalan keluar lewat pemberian uang yang berlimpah, hal itu amatlah salah. Sebab kebahagiaan anak terletak pada keterlibatan langsung orang tua dalam kehidupan. Orang tua jadi sumber pertama saat anak menanyakan sesuatu. Dengan pola demikian, anak akan merasakan kebahagiaan dan keutuhan sebagai anak.

 

  1. Suka Membandingkan Anak

Mungkin anak Bunda bukanlah seorang murid yang selalu meraih nilai sempurna di sekolah. Mungkin nilainya kalah jauh dibandingkan dengan teman sekelas. Tetapi hal itu bukan berarti Anda berhak membanding-bandingkan anak anda dengan teman-temannya. Itu tidak adil. Sebab setiap anak memiliki kemampuan dan minatnya masing-masing. Membandingkan anak Anda dengan orang lain akan membuat anak sakit hati dan kehilangan jati dirinya sendiri. Jika terus berlanjut, ia akan merasa dirinya tidak berharga dan tak memiliki kepercayaan diri yang bagus.

 

 

 

Dari 10 kesalahan diatas apakah ada dalam diri ayah dan bunda? Apakah ayah dan bunda pernah merasakannya? Pernah melakukannya?

Jika pernah apakah ayah dan bunda ingin merubahnya? Apakah ayah dan bunda ingin menjadi orang tua yang dibanggakan anak? Menjadi penentu kesuksesan anak?

Jika iya maka persiapkan diri ayah dan bunda untuk belajar, mencari, dan menerapkan pola didikan yang terbaik untuk anak anak ayah dan bunda kedepannya.