Harapan Terbaik untuk Buah Hati

“Saya hanyalah orang yang tergerak hatinya untuk memberikan sesuatu bagi dunia pendidikan,” sebut Didi Muriadi, Founder Rumah Bermain Bilal. Dia menegaskan, curahan perhatiannya yang kini terus diberikan  bagi Rumah Bermain Bilal bukanlah upaya untuk mengubah konsep pendidikan di Indonesia, namun hanya menjadi pemenuhan kebutuhan di mana masih banyak aspek yang belum sanggup diakomodir oleh lembaga pendidikan formal, khususnya mengenai akhlak.

Didi Muriadi bukanlah orang yang mempunyai latar belakang dunia pendidikan. Sebagai wiraswasta kesehariannya disibukkan oleh usaha ini dan itu. Namun keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi buah hati membuatnya tersadar. Ada hal besar yang mesti diwujudkan.

“Apa yang akan saya berikan untuk anak saya? Apakah cukup dengan uang yang saya berikan, apakah fasilitas? Tentu saya menjawab tidak. Tidak mungkin saya memanjakan anak dengan fasilitas, harta. Dia harus menjadi ‘orang’,” ujarnya.

Keprihatinan akan kualitas pendidikan, khususnya di Pekanbaru juga makin menguatkan hatinya untuk melangkah lebih jauh. Ia yakin, pendidikan memiliki tujuan yang lebih besar dari pada hanya sebatas nilai-nilai ujian semata. Baginya, pendidikan harus mampu mewujudkan keunggulan karakter dan intelektualitas.

Langkah Pertama

Tidak banyak pilihan. Untuk mewujudkan impinan akan pendidikan yang berkualitas bagi generasi penerus, Didi Muriadi memantapkan hati untuk memulai lembaga pendidikannya sendiri. Bersama beberapa rekan, Didi mengakuisisi sebuah bimbingan belajar (bimbel) yang pada saat itu dalam kondisi yang kurang baik. Langkah berikutnya, dia mulai melakukan perombakan sistem.

Untuk menyediakan pendidikan yang berkualitas sebagaimana yang diharapkannya, Rumah Bermain Bilal secara aktif melakukan riset untuk menemukan metode-metode pembelajaran yang paling efektif. Dengan membidik siswa pada usia dini, metode yang diperoleh harus kembali disesuaikan agar dapat mendukung tumbuh kembang anak, bukan malah merusaknya.

Tak hanya riset, tim Rumah Bermain Bilal juga telah berganti-ganti. Sejak didirikan, setidaknya telah terjadi 4 kali perombakan.

“Bukan tentang perombakannya, namun tentang upaya mempersiapkan penerus Bilal selanjutnya,” terang Didi.

Mengejar Visi

Penerapan dan diikuti evaluasi metode pembelajaran yang diterapkan Rumah Bermain Bilal membuat Didi Suriadi yakin bahwa lembaga ini telah membuktikan diri untuk memenuhi ekspektasi banyak orang terhadap pendidikan, khususnya pendidikan karakter. Bilal kemudian diperkuat secara korporasi melalui sistem-sistem operasional, pengawasan dan pengembangan yang ketat.

“Seperti yang kita ketahui, saat ini banyak orang yang menetapkan nilai, ijazah, gelar akaemis, tangible value sebagai standar pendidikaan. Sementara kualitasnya atau isinya tidak diperhatikan,” dia melanjutkan, “Visi kami adalah mewujudkan standar baru bagi dunia pendidikan,” jelas Didi.